Kau itu Dian.
Kau memang dian.
Bagiku, nyalamu adalah dian.
Dan ini untukmu.
Maksudku, sekali lagi untukmu.
Lagi-lagi untukmu.
Dian,
Kau tahu dilemaku?
Yaitu ketika aku sungguh rindu
Dan kau tidak!
Yaitu ketika aku sungguh merasakanmu
Dan kau tidak!
Sedang aku enggan menjadi pembunuh
Bagi cintaku yang gemuruh
Kau bilang kau juga merindu
Padahal tidak!
Kuyakin kau tidak
Kau hanya suka dibuatkan puisi
Yang lahir dari nyeri dadaku
Karya yang kau bilang itu manis
Adalah wajah hatiku
Yang mencinta sampai babak belur
Aku berhenti sejenak. Mataku pedas,
entah karena lelah atau karena air mata yang tertahan.
Aku sedang malas mengira-ngira.
Lalu beranjak, menuju dapur.
Teh hangat tak pernah marah kujadikan pelarian.
Dan malam seperti berulang
Aku kembali merindumu
Sampai kesal!
Sampai terdesak!
Sampai mau teriak!
Dan hati tetap menolak untuk berhenti,
sekalipun mencintaimu semelelahkan ini.
Sebentar saja,
Aku mau melarikan diri,
Menculik pikiran yang dipenjarai kamu.
Ah,
Terlalu malam untuk menyanyi di hutan
Terlalu jauh untuk teriak di pantai
Jadilah aku berlari diam di puncak
Sesakku ini butuh damai
Butuh kosong
Butuh tak butuh apa-apa
